Dapat Apa dari Obama?

gaulislam edisi 160/tahun ke-4 (9 Dzulhijjah 1431 H/ 15 November 2010)

Jiaah.. pekan-pekan kemarin semua gadget gue dipenuhi dengan kata Obama. Mulai dari informasi yang biasa aja, agak miring, miring banget sampai nyusruk semua kumplit. Jadi reseh tuh, karena kudu ngedeletin banjir informasi yang nyaris sama dengan berbagai besutan yang berbeda. Topik Obama emang laris manis kayak kacang goreng (perumpamaan yang aneh, kalo emang laris manis, kenapa jarang orang jualan kacang goreng jadi kaya raya?).

Mereka yang nggak setuju dengan Obama datang ke sini pun ada yang majang gambar Obama (yee.. kalo kagak sudi, mustinya nggak perlu dipajang di kaos!). Jelas di sini ada orang cerdik yang memanfaatkan ketidaksukaan Obama dateng dengan memproduksi kaos anti Obama plus foto doi dengan berbagai pose. Dan ternyata bukan hanya tukang sablon kaos saja yang ketiban untung dengan datengnya doi ke Indonesia, tukang sablon poster, spanduk, perusahaan bis, angkot, sampai percetakan serta merta meraup keuntungan dari bisnis kebencian ini.

Masih inget tipikal cerita klasik orang patah hati or kecewa? Biasanya orang kalo benciiiii banget, doi bakal ngga jauh dari marah, nangis bombay, ngerobek foto, ngebuang atau ngebakar barang-barang kesayangan bahkan sampai nggak BAB selama 5 minggu (eh, kalo yang satu in mah penyakitan). Jarang yang kalo benci diungkapin dengan memasang fotonya di mana-mana, pake kaos ada gambar dia, nempelin stiker bergambar dia dan sebagainya. Malah jadi terkenal deh dia!

Bro en Sis, dalam agama kita tidak menjadikan kebencian sebagai jalan utama dalam berdakwah. Justru sebaliknya, kita dikenal sebagai umat yang santun dan penyayang. Merupakan keagungan Islam, dimana ajaran dan sistemnya mencakup semua aspek kehidupan, sejak dari sistem keimanan (akidah), ibadah, syari’ah (berbagai peraturan dan perundang-undangan), mu’amalah (ekonomi dan bisnis), akhlak , budaya, seni, hubungan internasional. Perihal menyambut tamu, dalam Islam adalah bagian/cabang dari keimanan seperti yang disabdakan Rasul Saw. dalam sebuah hadits yang berasal dari sahabat Abu Hurairah ra. Bahwa Nabi Saw. bersabda, “…Siapa yang beriman kepada Allah dan RasulNya hendaklah ia memuliakan tamu.” (HR Imam Muslim)

Nah, khusus berkaitan dengan kedatangan Obama pada 9 November 2010 lalu, ada dua pendapat: pro dan kontra. Pendapat pertama, menolak kehadiran Obama. Hal ini didasari dari fakta yang tak terbantahkan bahwa Obama, sebagai Presiden AS, telah dengan nyata meneruskan permusuhan politik luar negerinya terhadap kaum Muslimin yang melawan kepentingan politik, ekonomi dan ideologi AS di negeri-negeri Muslim, khususnya di Palestina, Irak, Pakistan dan Afghanistan. Sehingga kemudian muncul pertayaan; apa masih pantas seorang Obama diterima kehadiranya hanya karena alasan menghormati tamu atau etika pergaulan internasional?

Pendapat kedua mendukung kedatangan Obama dengan dalih Obama adalah seorang tamu yang harus dihormati dan taat akan etika pergaulan internasional. Mereka ini mayoritasnya, kalau tidak dikatakan semuanya, sedang bertengger di atap kekuasaan Indonesia, baik eksekutif maupun legislatif. Bahkan uniknya lagi, sebagian kalangan ulama dari MUI pun sepaham pula dengan pendapat yang kedua ini. Seakan lengkaplah sudah legitimasi yang mereka miliki karena mendapat dukungan pula dari sebagian kalangan ulama, paling tidak yang menamakan dirinya ulama.

Tergantung tamunya

Muncul pertanyaan dalam benak gue, gimana sih adab menyambut tamu dalam Islam? Jawaban singkatnya adalah memuliakannya, memberinya makan, minum dan semua keperluannya. Namun demikian, bukan berarti setiap tamu seenaknya saja datang dan bertandang serta setiap kedatangannya harus diterima dengan tangan terbuka. Shahibul bait (nyang punya rumah), di samping memiliki kewajiban memuliakan tamu, namun dalam waktu yang bersamaan ia diberikan oleh Allah Ta’ala kebebasan untuk menerima atau menolaknya seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam surat an-Nuur ayat 27-29 (silakan cek ya). Karena Allah Maha Tahu bahwa tidak semua shahibul bait itu dalam keadaan siap menerima tamu dan bisa saja memberatkannya baik secara materil maupun immaterial.

Lalu bagaimana dengan tamu yang nonmuslim? Apakah ada perbedaannya? Terhadap yang Muslim, shahibul bait memiliki dua kewajiban, yakni kewajiban sebagai sesama Muslim dan kewajiban memuliakan tamu. Tentulah perlakuannya sangat istimewa. Adapaun terhadap tamu yang nonmuslim, shohibul bait hanya memiliki satu kewajiban, yakni sebagai tamu saja. Tentulah perlakuannya berbeda.

Dalam kasus Barrack Obama yang dateng ke negeri kita, faktanya pemerintah kita sudah setuju untuk menerimanya, sehingga doi pun datang deh. Meski banyak yang udah protes kepada pemerintah sejak awal tahun ini tapi rupanya pemerintah memilih menerima doi. Ya sudahlah (Bondan and F2B mode “on” hehe..)

Sumber permasalahan

Menerima nonmuslim sebagai tamu sebenarnya bukan hal yang asing dalam Islam. Sebagai tuan rumah kita menghormatinya dengan cara mendengarkan apa saja yang dia ingin sampaikan termasuk intimidasi sekalipun, jika ada. Setelah itu, shohibul bait menyampaikan pula pesan dan keinginannya seperti yang dilakukan Rasul Saw. terhadap Utbah bin Rabi’ah.

Sebagai seorang tokoh masyarakatnya, Utbah ingin sekali bertamu kepada Rasulullah karena melihat kegigihan Rasul menyebarkan Islam. Utbah ingin bernegosiasi dengan Rasul dengan cara persuasif, dengan tawaran (sogok) kepemimpinan, menjadi raja, harta, dan sebagainya. Setelah mendengar dengan serius tawaran-tawaran tersebut, Rasul Saw. berkata: Apakah Anda sudah selesai bicara Abal Walid? Ia menjawab: sudah anak pamanku.

Lalu Rasul Saw. berkata: Bismillahirrohmanirrohim… kemudian meneruskan ucapannya sambil membaca ayat surat Fushshilat dari ayat 1 – 4. Kemudian Rasulullah saw. meneruskan sampai ayat sujud dan Beliau pun melakukan sujud tilawah. Setelah itu Rasul berkata: Apakah anda sudah mendengarkannya wahai Abal Walid? Sekarang terserah Anda. Mendengar ayat dan ungkapan tersebut, muka Utbah pun berubah pucat pasi karena terpengaruh oleh mukjizat al-Quran dan perkataan Rasul saw yang begitu jelas mengajaknya beriman dan masuk Islam.

Presiden kita yang notabene muslim memiliki kesempatan emas untuk meneladani Rasul, beliau memiliki kesempatan untuk berdakwah di depan presiden AS, mampukah beliau melakukannya? Yang jelas sumber utama permasalahan ini adalah lemahnya Muslim di Indonesia. Demokrasi menjadikan Muslim lemah, karena demokrasi tidak akan berpihak kepada Islam dan tidak akan melahirkan pemimpin Islam yang kuat. Permasalahan Obama hanya sekelumit permasalah yang sebenernya bersumber pada permasalahan lain yang lebih besar dan mendasar, yaitu demokrasi, inilah hasil produk demokrasi. Nggak ada salahnya juga sih kalo kita doakan bersama semoga Pak SBY mampu meneladani Rasul Saw. dengan berdakwah di depan presiden AS ini yang lebih soft ketimbang pendahulunya, George W Bush. Tapi sayangnya, pemerintah kita faktanya malah menerima kesepakatan kemitraan konfrehensif (idpoleksusbudhankam) yang isinya justru memberatkan Indonesia sendiri. Ya, sudahlah! Itu memang konsekuensinya kalo kita merasa inlander alias mental dijajah.

Itu sebabnya, yang tepat untuk Obama sebagai kepala negara penjajah negeri-negeri muslim adalah tidak menerima tawarannya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai teman kepercayaan kalian orang-orang di luar kalangan kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa saja yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi (QS Ali Imran [3]: 118)

Kesimpulannya

Sebenernya banyak pemimpin yang dateng ke negara kita, Obama jadi spesial karena doi memimpin negara yang kita anggep adi daya. Anggapan ini sebenernya sudah usang dan kenyataan pun sudah berkata lain AS sekarang melemah dan sinyal pelemahan ini bisa kita lihat dalam sebuah tulisan di New York Times, ketika Obama bersikeras mendefinisikan misi ke Asia-nya dengan “Kita harus mencari konsumen baru di pasar baru untuk barang buatan Amerika.”

Doi keteteran setelah kemunduran doi dalam hasil pemilu paruh waktu AS pekan lalu. Kebangkitan Cina telah membuat banyak negara di Asia sadar, yang sebelumnya selalu mengikuti Amerika; kini mereka mulai menemukan acuan baru bagi masa depan ekonomi Asia. Cina tidak secara langsung kalah dalam perang dingin melawan AS, sekarang mereka malah menang dalam perang ekonomi. AS sering menuduh Cina memanipulasi nilai tukar mata uangnya, namun setali tiga uang, US Federal Reserve Bank memutuskan untuk membanjiri ekonomi dengan $600 milyar uang baru untuk merangsang ekonomi AS yang tengah kolaps.

AS bukan lagi negara adi daya. So, kedatangan Obama ke negeri kita bukanlah big deal. Dengan kondisi ini seharusnya lebih mudah untuk menolak Obama dateng. Daripada menerimanya, mendingan pemerintah fokus nanganin korban bencana alam.

Anyway, ini memang fakta yang ada saat ini. Gimana pun juga, harus kita hadapi. But, yang lebih keren tentu kita tetap belajar Islam dan mendakwahkannya kepada teman-teman yang belum tahu. Siap kan ya? Harus deh! [aribowo: aribowo@gaulislam.com]

http://www.gaulislam.com/dapat-apa-dari-obama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: