AKIBAT TIDAK MENITI MANHAJ SALAF

Artikel Buletin An-Nur :

AKIBAT TIDAK MENITI MANHAJ SALAF
Kamis, 28 Februari 08

Pribadi, masyarakat, maupun sebuah gerakan dakwah apabila tidak mau meniti manhaj salaf dan menjauh dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka akan mengalami penyimpangan dan kesalahan. Di antara kesalahan yang cukup menyebar di kalangan beberapa gerakan dakwah (jama’ah) dan juga para da’i secara global adalah sebagai berikut:

1. Yang paling besar dan sangat berbahaya adalah sikap meremeh kan tauhid, atau lemah dalam perhatian terhadapnya, baik dalam ilmu, keyakinan serta pengamalan, secara khusus dalam hal tauhid uluhiyah atau ibadah.

Tauhid, lebih khusus tauhid uluhiyah merupakan hal terpenting dalam Kitabullah dan as-Sunnah. Ia merupakan ushuludin (pokok agama) dan dakwah para nabi dan pembaharu. Keberadaannya wajib untuk dijadikan sebagai tujuan pertama serta urusan terbesar seluruh da’i dan pergerakan dakwah di setiap tempat dan zaman. Tauhid secara umum dan tauhid ibadah secara khusus merupakan puncak dan tujuan terbesar dari penciptaan jin dan manusia, sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wata’aladalam surat adz-Dzariyat ayat 56.

Tauhid merupakan perintah dan wasiat pertama kali yang disampaikan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam banyak ayat-ayat-Nya. Di antaranya firman-Nya, artinya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5).

Akibat dari meremehkan tauhid ini, maka terjadilah problem yang sangat serius dan berbahaya, yakni kaum muslimin rentan untuk terjerumus dalam perkara-perkara yang membatal kan tauhid, menguranginya atau paling tidak akan menodainya.

Di antara yang membatalkan tauhid adalah berdo’a kepada selain Allah subhanahu wata’ala, beristi’anah dan beristighatsah kepada selain Allah subhanahu wata’ala, menyembelih dan bernadzar untuk selain Allah subhanahu wata’ala, perdukunan, perbuatan-perbuatan syirik di sisi kubur dan sikap melampaui batas terhadap para Syaikh di kalangan Shufiyah.

Di antara yang mengurangi tauhid dan menodainya adalah berbagai macam bid’ah dan khurafat, berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mengusap-usap kubur, batu atau pohon tertentu, bersumpah dengan selain Allah subhanahu wata’ala dan lain sebagainya.

Apa yang disebutkan di atas adalah merupakan problem umat dan penyakit yang harus segera diobati sebelum penyakit-panyakit masyarakat yang lain, seperti akhlaq, sosial, politik, ekonomi dan pemikiran. Karena penyakit aqidah merupakan penyakit hati dan penyakit terbesar yang menyebabkan terjadinya penyakit-penyakit serta penyimpangan akhlaq dan selainnya. Ini merupakan penyakit umat baik yang terdahulu maupun di masa kini.

Namun perlu diperhatikan bahwa ketika kita memberikan prioritas utama terhadap tauhid dan memerangi bid’ah dan kemusyrikan bukan berarti melalaikan sisi-sisi lainnya. Yakni berupa hal-hal yang memberikan maslahat, yang mencegah kerusakan, mengobati penyimpangan sosial, akhlaq, pemikiran, politik, ekonomi, dan selainnya. Seorang da’i hendaknya memperhatikan semua sisi yang dianggap penting oleh Islam dan kaum muslimin, walaupun dalam batas yang minimal, sebab ini merupakan tuntutan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta perbaikan (ishlah) yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Perhatian seorang da’i, lebih-lebih sebuah gerakan Islam hedaknya bersifat universal, menyentuh seluruh sisi kehidupan. Tetapi tetap saja prioritas utama adalah memulai dengan apa yang Allah subhanahu wata’ala dan para rasul-Nya memulai dengannya. Demikian juga secara khusus, Nabi Kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau memulai dengan tauhid, dengan mengobati penyakit yang paling besar dan berbahaya, kezhaliman terbesar, yakni kemusyrikan, bid’ah dan kerusakan dalam masalah aqidah. Dan dalam waktu bersamaan beliau juga berusaha memperbaiki kerusakan-kerusakan di bidang yang lain.

Satu hal yang banyak dilupakan orang adalah bahwasanya baik dan buruknya kehidupan dan akhlaq manusia itu sangat terkait erat dengan baik dan buruknya tauhid atau aqidah mereka. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah menjelaskan bahwasanya barokah dari langit dan bumi itu akan dibuka, jika manusia mau beriman dan bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam surat al-A’raf ayat 96. Sementara iman dan takwa tidak akan terealisasi kecuali dengan akidah yang benar dan ibadah yang baik sesuai dengan tuntunan syar’i.

2. Lemah Perhatian terhadap Ilmu

Orang yang menjauh dari manhaj salaf biasanya akan meremehkan sisi ilmu, baik dalam hal belajar maupun mengajarkannya. Problem ini banyak menimpa gerakan-gerakan Islam non salafiyah di masa ini. Mereka secara umum tidak memberikan perhatian dalam sisi ini dengan perhatian yang memadai. Terbukti kita mendapati bahwa banyak gerakan dakwah yang tidak mempunyai ulama yang mumpuni dalam ilmu syar’i.

Yang cukup menyedihkan adalah bahwa pemikiran lepas diri dari ilmu baik yang ushul maupun yang bukan ushul -ilmu syar’i-, seperti ilmu hadits, aqidah, ushul fiqih, fiqih dengan alasan karena mementingkan pembaharuan, justru hal itu menimbulkan dampak negatif bagi kebanyakan da’i di masa ini.

Jika kita mencermati realitas gerakan dakwah dan para da’i, maka kita dapati masih banyak di antara mereka yang dangkal dalam ilmu syar’i, membawa bekal yang sangat minim dari nash-nash kitab dan sunnah serta atsar salafush shalih baik bacaan, hafalan, pemahaman, dan pengamalan. Hingga menyebabkan kegoyahan dalam aqidah, ushul agama,hukum, sikap dan lemah dalam memegang al-Qur’an dan as-Sunnah.

3. Fanatisme Kelompok (Ta’ashub Hizbiyah) dan Ghurur.

Sungguh ini merupakan sebuah ciri khas, yakni ciri khas sebagian besar kelompok dan gerakan pembaharuan Islam. Masing-masing kelompok membanggakan kelompoknya, masing masing melihat bahwa kelompoknya lah yang layak diikuti, yang layak memegang kendali kepemimpinan umat! Hanya kelompoknya saja yang dipandang mampu memberikan solusi pemecahan dari segala masalah. Bahkan boleh jadi ada sebagian gerakan dakwah yang mengklaim kelompoknya sebagai jama’atul muslimin, atau paling tidak merekalah yang pantas menyandang sifat ini.

Kadangkala sifat ghurur (arogan/sok) pada sebagian kelompok gerakan dakwah menggiring pada sikap meremehkan ilmu syar’i dan para ulama yang berkompeten dalam ilmu syar’i, karena mereka tidak bergabung dengan kelompok tersebut. Maka mereka melemparkan tuduhan kepada para ulama sebagai biang kelalaian, berpikiran cetek, berwawasan sempit hanya karena para ulama itu tidak bergabung dengan gerakan mereka.

4. Perpecahan dan Perselisihan

Ini merupakan ciri lain yang menonjol dari kelompok gerakan Islam yang enggan meniti manhaj salaf, yakni sering mengalami perpecahan dan perselisihan. Padahal itu semua telah dicela oleh Allah subhanahu wata’ala dan sekaligus dilarang keras dalam banyak ayat, seperti firman-Nya, artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103) Demikian pula dalam ayat 105 surat Ali Imran dan surat al-An’am ayat 159.

Dan juga sabda Nabi shlallahu a’lihi wasallam, “Janganlah kalian semua berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah berselisih dan akhirnya mereka binasa.” (HR. al-Bukhari dalam “kitabul khushumat”, dan riwayat Ahmad dalam al-Musnad, 1/412, 456)

Meskipun telah diperingatkan dengan keras, namun kenyataan tersebut masih banyak terjadi pada sebagian gerakan dakwah islamiyah dan para da’i di masa ini. Hal ini tentu butuh perhatian untuk menyatukan mereka dalam satu kalimat haq di atas al-Kitab dan as-Sunnah. Gerakan dan kelompok-kelompok dakwah ini akan senantiasa berpecah belah dalam manhaj, tujuan, metode dan amalan, memperlihatkan dan mengangkat issu perbedaan, bahkan hal ini terjadi dalam gerakan-gerakan yang manhaj mereka ada kemiripan. Berseteru untuk lepas dan merdeka, membuat grup baru adalah merupakan realita yang terjadi pada mereka. Ini menunjukkan bahwasanya problem terjadi pada pemimpin-pemimpin mereka dan hawa nafsu mereka. Sebab utamanya adalah kerena mereka lemah dalam berpegang dengan Kitabullah, as-Sunnah dan atsar serta lemah dalam memegang manhaj as-salafus shalih (ini yang umum terjadi), serta karena ta’ashub hizbiyah (fanatisme kelompok) dan ghurur. Kemudian juga karena tidak iltizam (konsisten) dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengharus kan untuk bersatu di atas al-haq, berpegang dengan tali Allah subhanahu wata’ala yang kuat dan mengenyahkan segala sebab perselisihan dalam agama.

Yang dituntut dari semua pihak adalah agar masing-masing kembali bersatu di atas al-haq. Dan al-haq adalah sangat jelas yakni apa yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dengan mengikuti atsar para as-salafush shalih.

Disadur dan diringkas dari kitab: “Mabahits fi Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah wa Mauqif al-Harakat al-Islamiyah al-Mu’ashirah Minha” hal 71-76 Prof. Dr. Nashir bin Abdul Karim al-Aql. (kholif abu ahmad)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: