Simbol Illuminati & Masonik Dalam Industri Hiburan

Simbol Illuminati & Masonik Dalam Industri Hiburan
Jumat, 30/10/2009 05:09 WIB | email | print

Assalamu’alaikum,
Eramuslim yg saya hormati. Apa alasan banyaknya simbol illuminati & masonik yg ditampilkan dalam banyak film, musik dan industri hiburan? Apakah ada efek negatifnya bila kita terus menerus mengkonsumsinya? jazakallah khair.

Wassalamualaikum

wakemeup
Jawaban

Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

Saudara ‘wakemeup’ yang dirahmati Allah SWT, kita semua sudah mengetahui jika cita-cita akhir dari gerakan Illuminaty (termasuk berbagai ‘sekte’nya seperti Freemasonry, Bilderberger, Bohemian Groove, Trilateral Commission, Rosikrusian, NeoLib atau Libertarian, dan sebagainya) adalah menciptakan The New World Order. Apakah itu The New World Order atau Tatanan Dunia Baru?

The New World Order yang dimaksudkan mereka, para konspirator globalis ini, adalah menciptakan satu dunia yang hanya diisi oleh mereka sebagai TUAN dan manusia selain mereka sebagai BUDAK. Tidak ada kelas menengah. Di era ini semua manusia hanya punya satu agama, yakni Pluralisme. Islam dan Kristen, juga Katolik, akan hancur, demikian pula dengan yang lainnya.

Dalam tatanan dunia yang baru ini, Sekularisme menjadi panglima dan kelompok konspiran globalis akan menjadikan Amerika Serikat sebagai kendaraan utamanya. Sebab itu, di dalam lambang negara AS terdapat simbol piramida illuminati, sebuah piramida terpenggal di atasnya dengan simbol sebuah mata di puncaknya.

Salah satu strategi perjuangan kaum globalis ini adalah dengan mengendalikan dan mendominasi pikiran dan kesadaran umat manusia, atau yang lazim disebut dengan istilah “The Mind Control” atau Pengontrolan Pikiran Manusia. Mereka ingin semua manusia, selain mereka tentunya, menjadi manusia-manusia yang bebal, jauh dari kekritisan, cenderung pada foya-foya dan kenikmatan duniawi, sehingga menjadi manusia yang malas untuk berpikir dan mempelajari hal-hal yang sebenarnya jauh lebih bermanfaat. Tipikal manusia jenis inilah yang akan memudahkan mereka untuk bisa memperbudak orang.

Sebab itu, mereka menguasai hampir seluruh industri opini, indusri tren, industri budaya pop, industri pendidikan, dan industri pemberitaan dunia. Semua media massa besar di dunia ini tidak lepas dari hegemoni mereka. Mereka menciptakan berbagai trend dunia secara berkesinambungan yang sesungguhnya dinilai dari rasionalitas dan akal sehat sama sekali tidak masuk akal dan tidak ada gunanya. Beberapa di antaranya adalah kontes Miss Universe misalkan, atau pemecahan rekor ini dan itu, apakah itu yang bernama World Guinnes Record atau pun MURI. Semua ini tidak ada gunanya sama sekali bagi peningkatan kualitas hidup dan kualitas kemanusiaan itu sendiri dan seharusnya umat Islam menjauhi hal-hal seperti itu.

Lalu kita semua bisa melihat sekarang ini, setiap hari setiap pagi, lewat layar kaca seluruh orang di Indonesia disuguhi pertunjukkan musik Live Show yang biasanya diadakan dipelataran parkir mall atau pun yang sejenisnya. Pertunjukkan ini melibatkan ratusan bahkan ribuan penonton yang mayoritas generasi muda Indonesia, yang berbondong-bondong ingin menyaksikan artis-artis muda Indonesia bernyanyi. Kian hari pertunjukan sejenis kian menggila dan banyak menyedot penonton.

Generasi muda seperti inilah, yang menyukai hura-hura, bebal, dan tidak kritis yang diinginkan para konspiran globalis. Saya menyebut generasi seperti ini sebagai “The Junk Generation” atau Generasi Sampah. Sama seperti berbagai sinetron di teve dan berbagai acara konyol yang sama sekali tidak mendidik dan (maaf) menjijikan. Termasuk acara menguji hapalan lirik lagu yang juga tidak bermanfaat sedikit pun.

Media layar kaca atau Teve memang media yang sangat efektif untuk menghacurkan kekritisan generasi muda dan membuat mereka menjadi generasi bebal yang ironisnya menyukai kebebalan itu sendiri. Kita bisa melihat, jika ada pentas musik, maka jumlah penonton pasti melebihi ratusan bahkan ribuan. Namun jika ada diskusi buku atau yang semacamnya, jumlah peserta paling banyak ratusan, tidak pernah ribuan. Dalam menciptakan generasi sampah ini, para konspirator global sepertinya sangat berhasil di Indonesia. Sebab itulah, saya pribadi menyarankan agar jika tidak ada acara yang bermanfaat di teve, sebaiknya dimatikan saja pesawat teve itu. Selain lebih hemat listrik, toh kita tidak terhanyut dengan segala acara konyol dan tidak berguna seperti itu.

Selain itu, berbagai pertunjukkan musik sekarang ini juga banyak menampilkan simbol-simbol masonik dalam tata hias panggungnya. Saya sebutkan satu saja, dalam acara Musik Malam Minggu yang diadakan salah satu stasiun teve swasta baru-baru ini yang menampilkan penyanyi Yana Yulio dan Rezza Artamevira, seluruh dekorasi panggung di dalam studio menggunakan simbol Bintang David. Simbol Zionis ini bertebaran di mana-mana. Dan ironisnya, sejumlah orang yang ikut duduk menyaksikan acara tersebut yang mengenakan jilbab namun tidak melakukan tindakan apa-apa, pun sampai sekarang tidak ada satu pun tokoh Islam yang menggugat acara tersebut. Ini beda dengan peristiwa saat kelompok musik Dewa-19 menginjak-injak kaligrafi bertuliskan Allah di salah satu studio teve swasta yang kemudian berbuntut panjang karena adanya seorang tokoh Islam yang menggugatnya. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah kebebalan itu juga sudah merasuki para aktivis?

Kontra-prestasi atau imbalan terhadap para artis juga sangat mewah dibanding imbalan atau kontra-prestasi terhadap para pendidik bahkan yang setingkat profesor sekali pun. Coba sesekali melihat satu acara diskusi di mana panitia mengundang seorang artis dan juga seorang profesor. Saya pernah melihat satu proposal yang disusun panitia diskusi bedah buku di sebuah universitas ternama di Jakarta yang mengundang seorang artis dan seorang profesor. Untuk si artis, panitia menganggarkan dana dalam amplop sebesar lima juta rupiah, sedangkan untuk sang profesor hanya sepersepuluhnya, yakni ‘cuma’ limaratus ribu rupiah. Ini adalah fakta jika kebanyakan dari kita memang lebih menghargai artis ketimbang seorang pendidik yang sudah susah payah meraih gelar intelektualitasnya.

Jika ditanyakan apakah berbahaya jika kita terus-menerus mengkonsumsi tontonan musik, film, dan sebagainya yang sarat dengan simbol-simbol Masonik, maka jawabnya adalah iya. Untuk musik dan acara-acara tidak bermanfaat, sedapat mungkin tinggalkanlah. Apalagi yang ditayangkan teve atau melihatnya langsung. Namun untuk film, hal ini tergantung pada keperluan. Sebab banyak pula film yang bisa diambil ilmunya, tentu tidak bagi setiap orang.

Hanya saja, yang harus kita sadari, semua film, musik, dan acara hiburan sekarang ini memang dibuat untuk melenakan kita semua. Dan salah satu cara yang paling jitu dan paling mudah sekarang ini adalah dengan melakukan Diet menonton teve.

Wallahu ‘alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Filed under: – – – dari eramuslim.com | Komentar Dimatikan
Maraknya Grup music tanah air
Posted on Maret 25, 2011 by Situs islam: http://www.alsofwah.or.id , http://www.muslim.or.id , http://www.almanhaj.or.id , http://www.google.com , http://www.yahoo.com

Maraknya Grup music tanah air
Senin, 20/07/2009 07:18 WIB | email | print

Assalamualaikum,

sebenarnya saya ingin mengetahui dari redaksi eramuslim perihal dengan banyaknya grup music di tanah air saat ini ketimbang dari tahun 90-an. apakah dalam fenomena tersebut ada suatu konspirasi oleh kaum yahudi untuk memenuhi tanah air ini dengan musisi-musisi hebat daripada pemimpin-pemimpin yang bertanggungjawab yang sampai saat ini banyak dinanti-nanti oleh rakyat indonesia kini. kemudian bagaimana hukumnya memainkan musik bagi seorang muslim walaupun musik nasyid?

Hafiz
Jawaban

Wa’alaykumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

Semoga Antum selalu berada dalam rahmat dan lindungan Allah SWT. Apa yang Antum cemaskan di atas adalah benar adanya dan menjadi kecemasan para pejuang-pejuang dakwah Islam di mana pun sekarang ini. Perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam digelar dalam berbagai cara dan di berbagai medan. Ada perang yang menggunakan peluru tajam dan bom, namun ada pula perang yang menggunakan gaya hidup (life-style), yang dalam materi-materi keislaman dikenal dengan istilah Perang Pemikiran atau Perang Kebudayaan (Ghouzwul Fikri). Barat sendiri mengenal istilah itu dengan istilah Perang Peradaban yang dihaluskan menjadi ‘Benturan Peradaban’ (The Clash of Civilization).

Perang Pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam antara lain dengan menjerumuskan generasi muda Islam menjadi generasi muda yang suka berfoya-foya, enggan bekerja keras, dan berpikiran sekuler dengan menjadikan orientasi hidupnya demi mengejar kenikmatan kehidupan dunia semata. Tujuan hidup adalah menjadi kaya raya, terkenal, dan populer.

Hal ini sudah lama dirancang oleh Yahudi, di antaranya dimasukkan ke dalam Protocol of Zions yang disahkan menjadi agenda gerakan Yahudi Internasional paska Kongres Zionis Internasional di Swiss tahun 1897 (Protocol ini aslinya terdiri dari 25 pasal, namun kini menjadi 24, silakan search sendiri karena sangat mudah mendapatkannya di internet).

Lalu hal tersebut ditegaskan lagi oleh Samuel Zweimer, Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi pada sambutan pembukaan Konferensi Yerusalem (1935), di mana hadir para utusan agen yahudi dari seluruh dunia. Dalam pidatonya yang juga bisa dicari di internet, Zweimer antara lain menyatakan:

“…yang perlu saudara-saudara perhatikan adalah bahwa tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islam, bukanlah untuk mengharapkan kaum muslim beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Bukan itu. Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam, menjauhkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir mempertahankan agamanya. Di samping itu saudara-saudara harus menjadikan mereka jauh dari keluhuran budi, jauh dari watak yang baik.

Oleh karena itu, tugas saudara adalah membuka jalan agar kekuatan kolonial mampu menerobos benteng kerajaan Islam. Cara ini telah Anda lakukan dengan baik seratus tahun lalu. Kita dan seluruh saudara kita sangat gembira dengan hasil perjuangan saudara selama ini.

…Sarana yang telah saudara-saudara bawa saat ini ternyata mampu mengubah pikiran dunia mengikuti kita. Itulah jalan yang telah saudara-saudara perjuangkan dengan susah payah untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya. Kini saudara-saudara telah berhasil mencetak kader-kader dari berbagai macam bangsa yang tidak mengenal hubungannya dengan Allah dan memang mereka tidak ada keinginan sedikitpun untuk mengerti tentang-Nya.

Saudara-saudara telah mengeluarkan kaum muslimin dari agama mereka, sekalipun mereka tetap enggan memakai baju yahudi atau baju kristen. Gaya hidup seperti itulah sasaran perjuangan kita, yakni para pemuda Islam yang malas, enggan bekerja keras, cenderung berfoya-foya, hanya gemar mempelajari segala hal yang berkaitan dengan sensualitas dan nafsu syahwat, bekerja semata-mata demi mengejar kekayaan material dunia semata, memburu jabatan, memuaskan nafsunya, dan sebagainya.

Kini tugas saudara-saudara telah terlaksana dengan amat baik. Saudara-saudara telah mengagungkan agama kita semua, agama yahudi.

Saudara-saudara patut mengetahui bahwa para tetua kita sangat gembira dengan segala apa yang telah saudara-saudara hasilkan. Oleh sebab itu, lanjutkanlah perjuanganmu demi risalah agamamu. Semoga saudara-saudara semua mendapat berkat dari Tuhan kita, Elohim, Allah yang Maha Suci dan Maha Agung. Lanjutkanlah perjuangan ini hingga dunia benar-benar terberkati…”

Terkait dengan hal tersebut, lebih kurang dua tahun belakangan ini, jika kita cermati kehidupan remaja di berbagai kota besar, terdapat fenomena baru yakni berbondong-bondong mereka pergi ke suatu tempat di pagi hari, bahkan sejak ba’da subuh, untuk menyaksikan konser musik yang biasanya di gelar di pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan atau tempat keramaian lainnya.

Kita bisa melihat, sejak pagi hari, berbagai stasiun teve di negeri ini sudah mencekoki kita dengan berbagai acara konser seperti Inbox, Dahsyat, Derings, Playlist, dan sebagainya. Lalu ada pula Missing Lyrics dan lain-lain. Dan kian kemari, lebih dari 90% acara teve, merupakan acara yang konyol, tidak mendidik, mempromosikan kekerasan, dan sama sekali tidak bermanfaat, seperti berbagai sinetron, reality-show (yang sering sudah direkayasa), musik, dan acara “hiburan” seperti Extravaganza dan semacamnya.

Fenomena ini bagi kebanyakan orang memang tidak terlalu dipusingkan. Namun ketahuilah bahwa di suatu tempat di belahan bumi ini, musuh-musuh Islam tengah tertawa bahagia melihat kondisi saudara-saudara kita ini yang setiap hari disibukkan oleh “Kebudayaan Sampah” ini.

Diam-diam, tanpa disadari banyak orang, umat Islam di negeri ini memang tengah dilemahkan. Generasi muda Islam dibius dengan berbagai budaya pop, antara lain lewat musik sebagai pintu gerbang emas serangan budaya. Sedang generasi yang lebih tua, diserang dengan hal-hal yang lebih dahsyat. Salah satunya dengan kenikmatan hidup duniawi, baik harta, tahta, maupun perempuan, bujukan ideologi, dan sebagainya. Salah satu faktanya, bukan ilusi lagi, adalah bagaimana kenyataan jika sebagian orang-orang yang selama ini disebut sebagai “pemimpin umat” malah bersekutu dengan kaum kafirin dan liberalis dalam memilih imam. Semua itu dilakukan demi kenikmatan duniawi semata dengan berdalih macam-macam, baik dalih rasionalis maupun agamis. Padahal Rasulullah SAW tidak pernah memberikan loyalitasnya pada pemimpin kaum Quraisy sedikit pun.

Jika dulu dan sampai sekarang Barat menyerang umat Islam dengan 3G (Gold, Glory, dan Gospel), maka Barat sekarang juga menyerang umat Islam lewat 3F (Food, Fashion, and Fun). Dalam bukunya, Jihad vs McWorld, Benjamin R. Barber mengatakan jika apa yang terjadi di dunia hari ini adalah pem-Barat-an budaya (westernisasi), yang dilakukan Utara terhadap Selatan. MTV, McDonald, celana jeans, musik ska, dan R & B dan film-film Hollywood kini dinikmati oleh warga dunia ketiga. Budaya Barat tidak lagi milik segolongan orang Amerika, tapi sudah milik dunia. Termasuk negeri-negeri Islam. Apa yang menjangkiti dunia Islam hari ini adalah berkembangnya mazhab selebritis. Indikasinya adalah eksploitasi aurat dalam media massa, yang salah satunya snagat efektif melalui tayangan TV. Film-film seperti Beverly Hills, Dawson Creek, dan Melrose Place, dan juga sinetron-sinetron konyol dan tidak bermutu lokal Indonesia, seolah-olah tontonan maha penting bagi semua orang dibanding rubrik ilmu pengetahuan. Info Selebritis, atau gosip artis, seolah begitu berharga dibanding berita penting lainnya dalam kehidupan. Semua itu, bisa langsung masuk ke kamar kita secara bebas.

Ini merupakan fakta di dalam masyarakat kita. Salah satu hasilnya adalah, fenomena kebangkitan Islam yang pernah booming di sekitar tahun 1980-an, ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Secara politis umat Islam kalah total dengan kaum liberal, secara budaya demikian pula. Apa yang dihasilkan oleh gerakan Islam di Indonesia sekarang ini dalam bidang peradaban dan penegakan syariah? Secara kasat mata kita harus berendah hati untuk mengakui: NOL BESAR.

Dalam pilpres kemarin, partai-partai yang menjual label Islam justru mendukung ‘imam’ yang tidak mau membubarkan gerakan sesat Ahmadiyah dan yang membela kaum Liberal yang berkiblat ke Amerika, suatu negara Luciferian. Padahal jika Rasulullah SAW masih hidup, pasti akan segera diperanginya.

Dalam bidang pemikiran, gerakan Islam sekarang tidak ada satu pun yang melahirkan kelompok kajian strategis yang mumpuni dan besar, yang mampu mencerdaskan dan membuat umat-Nya kritis. Yang ada, gerakan Islam hanya melahirkan banyak sekali grup nasyid, yang asyik berdendang-ria dan masuk-keluar dapur rekaman. Malah banyak ustadz yang sekarang terobsesi jadi artis, sehingga salah satunya, tanpa risih mengadopsi lagu “Jablay” dan menjadikannya musik gambus dengan mengganti syairnya. Dia bergoyang-goyang sambil menyanyikan lagu “Jablay”tapi diganti liriknya. Mirip badut.

Akhirul kalam, inilah kondisi ril umat Islam sekarang. Memang, tidak bisa kita pungkiri juga, ada satu-dua generasi muda Islam yang cemerlang, namun secara keseluruhan, mereka tengah mabuk-kepayang oleh budaya sampah. Akankah mereka akan kita biarkan menjadi generasi sampah juga? Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Filed under: – – – dari eramuslim.com |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: