Teman dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Beragama Seseorang (Hati-hati memilih teman!)

Dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya, Allah menciptakan manusia dari sepasang insan; lelaki dan perempuan. Allah menjadikan mereka hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya dapat saling mengenal. Kemudian Allah memuliakan orang yang paling bertakwa di antara mereka. Demikianlah suratan takdir dari Allah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

 

Allah berfirman:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

 

Lebih dari itu, Allah menjadikan manusia mempunyai kemampuan sebagai makhluk sosial yang pandai berbicara, bisa mendengar dan melihat. Kemudian pandai berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya serta lingkungannya. Allah berfirman:

“Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.” (Ar-Rahman: 3-4)

 

Allah juga berfirman:

“Maka Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 2)

 

Berbagai anugerah pun Allah bentangkan untuk umat manusia demi keberlangsungan hidup mereka di muka bumi ini. Allah berfirman:

“Bukankah telah Kami jadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijan dan tumbuh-tumbuhan, serta kebun-kebun yang lebat?” (An-Naba’: 6-16)

 

 

Manusia senantiasa membutuhkan teman

 

 

Manusia yang lekat dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan senantiasa membutuhkan teman dalam hidupnya. Mahasuci Allah, manakala di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah diciptakan-Nya para istri sebagai teman dekat (pendamping) bagi kaum lelaki. Dia menjadikan kecenderungan dan ketenteraman bagi kaum lelaki kala bersanding dengan istrinya. Dia menjadikan pula rasa kasih dan sayang di antara keduanya. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

 

Kebutuhan manusia akan teman tak hanya sebatas istri. Teman selain istri pun mempunyai pengaruh yang besar bagi seseorang dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Allah Yang Maha Pemurah tak membiarkan manusia hidup dengan berbekal kekurangan dan keterbatasannya. Berbagai bimbingan terbaik seputar permasalahan ini pun Allah sampaikan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya n. Kupasannya pun luas, mencakup topik saling membutuhkan dalam hal maslahat duniawi dan juga ukhrawi.

 

Para pembaca yang mulia, jatidiri seorang teman sendiri bermacam-macam, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Masing-masing sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan seseorang, di dunia maupun di akhirat. Sungguh bahagia seseorang yang diberi kemudahan dan taufik oleh Allah untuk mendapatkan teman-teman yang baik. Sebaliknya, betapa merugi seseorang yang terhalangi dari teman-teman yang baik, bahkan dikitari oleh teman-teman yang buruk. Allah berfirman:

“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari kalangan jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (Fushshilat: 25)

 

Dalam mutiara kenabian, terpancar satu permisalan indah tentang jatidiri seorang teman dan pengaruhnya bagi seseorang. Sebagaimana dalam sabda beliau:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Si penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan aroma harum semerbak darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 5534 dan Muslim dalam Shahih-nya no. 2628 dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari z)

 

Hal penting yang harus diketahui oleh setiap insan muslim juga, bahwa semua teman akrab, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain di hari kiamat kecuali orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

 

 

Hati-hati memilih teman!

 

 

Selektif dalam memilih teman merupakan prinsip utama dalam Islam. Sejarah pun menunjukkan bahwa para ulama terdahulu (as-salafush shalih) benar-benar memerhatikan prinsip ini. Karena sosok teman sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat.

 

Di dalam Shahih Al-Bukhari (no. 3742) disebutkan bahwa Alqamah seorang tabi’in yang mulia berkisah: “Ketika aku masuk ke Negeri Syam, maka aku (langsung menuju masjid dan) shalat dua rakaat. Kemudian kupanjatkan sebuah doa: ‘Ya Allah, berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini)’. Usai berdoa kudatangi sekelompok orang yang sedang duduk-duduk dan turut bergabung bersama mereka. Lalu datanglah seorang syaikh dan duduk di sebelahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Siapakah orang ini?’ Mereka menjawab: ‘Beliau adalah Abud Darda’ (seorang sahabat Nabi).’ Maka aku katakan kepada beliau, ‘Aku telah berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini). Sungguh Allah telah memudahkanku untuk bertemu denganmu.’ Abud Darda’ berkata: ‘Dari manakah engkau’. Maka kukatakan: ‘Aku dari negeri Kufah’.”

 

 

Selektif dalam memilih teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: Memerhatikan teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Jika mereka itu orang-orang yang buruk, maka hendaknya dijauhi, karena (penyakit) mereka itu lebih kuat penularannya daripada kusta. Atau jika mereka itu teman-teman yang baik, yang senantiasa memerintahkan kepada kebaikan, mencegah (anda) dari kemungkaran dan membimbing kepada pintu-pintu kebaikan, bergaullah (dengan mereka).” (Al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid 1/224)

 

Selektif memilih teman harus diupayakan sejak dini. Karena pergaulan di masa muda sangat menentukan kelanjutan hidup pada fase-fase berikutnya. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Jika engkau melihat seorang pemuda di awal pertumbuhannya bersama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka harapkanlah kebaikannya (di kemudian hari). Jika engkau melihat di awal pertumbuhannya bersama ahlul bid’ah, maka berputusasalah akan kebaikannya (di kemudian hari).” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Al-Imam Ibnu Muflih, 3/77)

 

Demikian halnya yang dikatakan Al-Imam Amr bin Qais Al-Mula’i , namun ada sedikit tambahan: “…karena (perjalanan) seorang pemuda sangat ditentukan oleh masa awal pertumbuhannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah , 2/481-482)

 

Tak kalah pentingnya pula selektif dalam memilih teman saat menuntut ilmu. Al-Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani berkata: “Bila dia (seorang penuntut ilmu) membutuhkan teman, hendaknya memilih orang yang shalih, beragama, bertakwa, wara’, cerdas, banyak kebaikannya lagi sedikit keburukannya, santun dalam bergaul, dan tak suka berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dalam keadaan ingat (kebaikan), teman tersebut mendukungnya. Bila dia butuh bantuan, teman tersebut siap membantunya. Dan bila dia sedang marah, maka teman tersebut pun menyabarkannya.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 83-84)

 

Para pembaca yang mulia, teman adalah potret tentang jatidiri seseorang. Bahkan ia sebagai barometer bagi agamanya. Rasulullah bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung agama teman akrabnya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian memerhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman akrab.” (HR. Abu Dawud dalam As-Sunan juz 2, hal. 293, At-Tirmidzi dalam As-Sunan juz 2, hal. 278, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 4, hal. 171, dan Ahmad dalam Al-Musnad juz 2, hal. 303 dan 334 dari sahabat Abu Hurairah z. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 927)

 

Sahabat Abdullah bin Mas’ud  berkata: “Seseorang akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan sejenis dengannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah , juz 2 hal. 476)1

 

Al-Imam Qatadah berkata: “Demi Allah, sungguh tidaklah kami melihat seseorang berteman kecuali dengan yang sejenisnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah , semoga kalian senantiasa bersama mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah , 2/480)2

 

Ketika Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri datang ke Kota Bashrah dan melihat posisi Ar-Rabi’ bin Shubaih yang tinggi di tengah umat, beliau pun menanyakan prinsip agamanya. Maka orang-orang menjawab: “Prinsip agamanya tidak lain adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

 

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri bertanya lagi: “Siapakah teman-teman dekatnya?” Mereka menjawab: “Orang-orang Qadariyyah (pengingkar takdir, pen.).”

 

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri pun berkata: “Kalau begitu dia adalah seorang qadari.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah , 2/453)3

 

 

Mewaspadai teman yang buruk

 

 

Teman yang buruk sangat berbahaya bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Karena bersahabat dengannya tidaklah membuahkan apapun kecuali penyesalan:

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku, dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 28-29)

 

Sikap berhati-hati dari teman yang buruk, sesungguhnya berlaku juga bagi para pejabat pemerintahan. Mengingat, betapa besarnya pengaruh teman yang buruk bagi berbagai kebijakan mereka. Di dalam kitab Riyadhush Shalihin, Al-Imam An-Nawawi menyebutkan bab khusus terkait dengan hal ini. Beliau berkata: “Bab: Hasungan terhadap hakim dan pemimpin bangsa serta pejabat pemerintahan lainnya dari agar mencari teman yang baik dan berhati-hati dari teman yang buruk.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Engkau bisa mendapati bahwa di antara para pemimpin itu ada yang baik dan suka dengan kebaikan. Namun, manakala Allah memberinya  teman-teman yang buruk, lalu wal’iyadzu billah mereka menghalanginya dari kebaikan yang diinginkannya, menghiasi sesuatu yang buruk hingga nampak baik, dan menanamkan kepadanya kebencian kepada para hamba Allah.

 

Engkau pun bisa mendapati di antara para pemimpin itu ada yang kurang baik. Namun tatkala teman-temannya dari kalangan orang-orang baik, yang selalu menunjukinya kepada kebaikan, memberikan motivasi dan mengarahkannya kepada segala hal/kebijakan yang membuahkan rasa cinta antara dia dengan rakyatnya, akhirnya menjadi baik keadaannya. Dan orang yang terjaga itu adalah yang dijaga oleh Allah.” (Syarh Riyadhish Shalihin)

 

Teman yang buruk itu bermacam-macam. Terkadang dari jenis pelaku kemaksiatan (pengekor syahwat), atau dari jenis ahlul bid’ah4 dan orang-orang yang menyimpang agamanya. Semuanya harus diwaspadai. Pelaku kemaksiatan (pengekor syahwat) dapat menyeret siapa saja yang berteman dengannya ke dalam kemaksiatan dan syahwat. Demikian pula ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang agamanya akan menyesatkan siapa saja yang berteman dengannya.

 

Bahkan menurut Al-Imam Ahmad bin Hanbal , berteman atau bermajelis bersama ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang dengan alasan untuk mengembalikan mereka kepada al-haq tidak dibenarkan juga. Karena mereka akan menyampaikan kerancuan-kerancuan berpikirnya (syubhat) dan enggan untuk kembali kepada al-haq.5 (Lihat Al-Ibanah 2/472)6

 

 

Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya: “Adakah contoh kasus tentang orang-orang yang tersesat (agamanya) karena teman?” Maka jawabnya adalah: “Ada, bahkan banyak.”

 

 

Diantaranya adalah:

 

 

1. Abu Thalib terhalang dari Islam karena pengaruh temannya.

 

 

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 3884): “Saat menjelang kematian Abu Thalib, Rasulullah datang menjenguknya. Ternyata di sisi Abu Thalib telah ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah. Rasulullah berkata: ‘Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah (tiada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali Allah, pen.), sebuah kalimat yang akan kujadikan hujjah (pembelaan) untukmu di hadapan Allah’. Maka berkatalah Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah: ‘Apakah kamu benci terhadap agama Abdul Muththalib (agama berhala, pen.)?!’ Setiap kali Rasulullah menawarkan kalimat Laa ilaaha illallah kepada Abu Thalib, maka setiap kali pula Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah menimpalinya dengan perkataan di atas. Hingga kata terakhir yang diucapkan Abu Thalib kepada mereka adalah: ‘(Aku) di atas agama Abdul Muththalib (menyembah berhala)’.”

 

Demikian pula secara lebih tegas disebutkan dalam Shahih Muslim (no. 39): “…Dia (Abu Thalib) berada di atas agama Abdul Muththalib (menyembah berhala) dan tidak mau mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah.”

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Betapa bahayanya teman yang buruk terhadap seseorang. Kalau tidak ada pengaruh dari dua orang tersebut (Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah, pen.) bisa jadi Abu Thalib menerima ajakan Nabi untuk mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah dan wafat sebagai pemeluk agama Islam.” (Al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid 1/224)

 

 

2. Abu Dzar Al-Harawi terseret ke dalam madzhab Asy’ari karena kedekatannya dengan Al-Qadhi Abu Bakr Ath-Thayyib

 

 

Di dalam kitab Siyar A’lamin Nubala’ (17/558-559) dan Tadzkiratul Huffazh (3/1104-1105) karya Al-Imam Adz-Dzahabi disebutkan bahwa Abu Dzar Al-Harawi, seorang ulama terkemuka di masanya terseret ke dalam madzhab sesat Asy’ari, disebabkan kedekatannya dengan tokoh madzhab tersebut yang bernama Al-Qadhi Abu Bakr Ath-Thayyib. Bermula dari pertemuan pertama di Kota Baghdad, kemudian disusul dengan pertemuan kedua, dan demikian seterusnya. Hingga akhirnya terseret ke dalam madzhab Asy’ari, sebagaimana yang dinyatakan Abu Dzar Al-Harawi sendiri: “Akhirnya aku mengikuti madzhabnya.”

 

Tidak sampai di situ, ia pun kemudian menyebarkan madzhab Asy’ari tersebut di Kota Makkah. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata: “Dia mendapatkan ilmu kalam dan madzhab Asy’ari dari Al-Qadhi Abu Bakr Ath-Thayyib, kemudian menyebarkannya di Kota Makkah. Orang-orang yang berasal dari negeri-negeri maghrib arabi (magharibah) menyambutnya dan membawa akidah sesat tersebut ke Negeri Maroko dan Andalusia (Spanyol). Padahal sebelumnya para ulama di beberapa negeri tersebut tidak menyukai ilmu kalam. Bahkan mereka adalah orang-orang yang mumpuni di bidang ilmu fiqh, hadits, atau bahasa Arab.” (Siyar A’lamin Nubala’ 17/557)

 

 

3. ‘Imran bin Hiththan menjadi khawarij karena pengaruh istrinya

 

 

Imran bin Hiththan adalah seorang yang hidup di masa tabi’in. Dia meriwayatkan hadits dari sekelompok sahabat Nabi n. Dia kesohor akan kesungguhan dalam menuntut ilmu dan hadits. Dahulunya berakidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, namun di akhir hayatnya terseret ke dalam akidah sesat Khawarij. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Adalah Imran bin Hiththan tergolong orang yang terkenal di kalangan madzhab Khawarij, padahal sebelumnya dia kesohor akan kesungguhan dalam menuntut ilmu dan hadits, kemudian terseret ke dalam fitnah (Khawarij).”

 

Al-Imam Ya’qub bin Syaibah berkata: “Dia berjumpa dengan sekelompok sahabat Nabi n, namun di akhir hayatnya terseret ke dalam akidah Khawarij. Sebabnya adalah bahwa sepupu wanita/anak pamannya (yang bernama Hamnah, pen.) yang memiliki akidah sesat, akidah Khawarij, maka dia menikahinya dengan tujuan mengembalikannya ke dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Akan tetapi, justru sang istrilah yang menyeretnya ke dalam akidah Khawarij.”

 

Hal senada juga disampaikan oleh Al-Imam Muhammad bin Sirin t. (Lihat Tahdzibut Tahdzib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar, 8/108-109)

 

Para pembaca yang mulia, belajar dari uraian di atas, maka sudah seharusnya bagi kita semua selektif dan berhati-hati dalam memilih teman. Mewaspadai teman yang buruk dan berteman dengan teman yang baik. Mengingat, seorang teman itu sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan beragama kita.

 

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

1, 2, 3 Lihat kitab Ijma’ul Ulama’ ‘Alal Hajri wat Tahdzir Min Ahlil Ahwa’, karya Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri.

4 Bid’ah adalah segala hal yang diada-adakan dalam agama (tidak ada syariat/dalilnya dalam Islam). Ahlul bid’ah/mubtadi’ adalah orang yang bersemangat mempelajari dan melakukan kebid’ahan serta mendakwahkan/mengajak manusia untuk melakukan bid’ah.

Namun demikian, seseorang yang melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat dalam keadaan tidak tahu, maka dia diberi udzur karena ketidaktahuannya tersebut. Dia tidak dihukumi mubtadi’. Hanya saja amalan yang dilakukannya disebut bid’ah.

5 Diantara buktinya adalah kasus Imran bin Hiththan yang akan disebutkan insya Allah.

6 Sebagai tambahan faedah tentang sikap terhadap ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang agamanya, silakan lihat kitab Ijma’ul Ulama’ ‘Alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa’, karya Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri.

 

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)

http://www.asysyariah.com/syariah/manhaji/771-teman-dan-pengaruhnya-dalam-kehidupan-beragama-seseorang-manhaji-edisi-59.html

About these ads

One Response

  1. subhanalloh..mdah mdahan ana bisa mnemukan teman yg mmbwt ana lbih dekat pd alloh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: